Cara Berkembang Biak Ubur-Ubur

Cara berkembang biak ubur-uburTentu kita semua tahu mengenai hewan yang bernama ubur-ubur. Ia merupakan anggota dari kelas Scyphozoa. Anggota kelas ini terdiri atas beberapa ratus spesies yang semuanya hidup di laut. Seperti anggota kelas Scyphozoa lainnya, ubur-ubur berkembang biak dengan cara generatif dan vegetatif.

Pendahuluan

Seperti kebanyakan anggota Scyphozoa lainnya, ubur-ubur merupakan perenang aktif. Untuk melakukan hal tersebut, mereka menggunakan sel-sel ototnya yang terdapat di lapisan mesoglea. Jika jaringan otot di tubuhnya berkontraksi maka akan terjadi penurunan volume di rongga tubuhnya yang menyebabkan air di rongga tersebut tertekan ke luar di bawah tubuhnya sehingga ubur-ubur akan bergerak ke atas. Setelah itu, otot akan melakukan relaksasi sehingga mesoglea dan bentuk tubuh ubur-ubur akan kembali ke bentuk normal. Kontraksi dan relaksasi otot silih berganti terjadi yang menyebabkan ubur-ubur selalu bergerak.

Walaupun ubur-ubur hanya memiliki jaringan saraf yang sangat sederhana, mereka menunjukkan perilaku yang khas, seperti membentuk formasi agreasi memijah secara periodik dan migrasi vertikal dari perairan permukaan ke perairan lebih dalam dan sebaliknya. Untuk melakukan hal tersebut, di dalam tubuh ubur-ubur terdapat berbagai sensor yang berupa satosis (organ keseimbangan), mata (reseptor cahaya) dan lapet (reseptor perasa). Statosis dan mata berada di dalam Rhopallia, yang merupakan suatu simpul saraf dan berperan memacu kontraksi ritmik otot otot di tubuh ubur-ubur.

Cara Berkembang Biak Ubur-Ubur

Sebelum kita membahas tentang perkembangbiakkan ubur-ubur, perlu diketahui bahwa di dalam siklus hidupnya terdapat 2 stadium yaitu stadium medusa dan stadium polip. Stadium yang kita lihat berenang bebas di laut ialah medusa.

Saat stadium medusa, di dalam tubuh ubur-ubur terdapat organ kelamin (gonad) yang berfungsi untuk menghasilkan gamet. Gonad ini berkembang di dalam jaringan gastrodermis dan berada di dekat lambungnya. Setiap gamet yang dihasilkan, dapat berkelamin jantan atau betina, tergantung jenis kelamin dari ubur-ubur tersebut.

Persatuan antara gamet jantan dan betina akan menghasilkan larva planula. Larva ini berbentuk seperti sosis, tubuhnya penuh dengan silia dan berukuran mikroskopis. Larva kemudian akan menempel pada substrat dan berubah menjadi stadium polip yang disebut skifistoma.  Struktur tubuh stadium polip ini juga berlapis dua (diploblastik) sama seperti medusa, tetapi saat stadium polip ini lapisan mesogleanya lebih tipis. Selain itu, ia tidak memiliki mata dan statosis, dengan lubang mulut menghadap ke atas.

Dalam pertumbuhannya, skifistoma ini dapat membentuk skifistoma baru/tahambahan dengan cara bertunas. Pertunasan ini merupakan cara perkembangbiakkan ubur-ubur secara vegetatif. Selain membentuk tunas, ubur-ubur saat stadium polip dapat berkembang biak dengan cara strobilasi. Pada proses ini, ia akan membelah diri secara transversal, hasil pembelahan diri ini disebut dengan strobila. Di dalam strobila terdapat calon individu baru yang pada saatnya akan keluar dan menjadi individu baru yang disebut efira. Efira dapat berenang dan sedikit demi sedikit akan tumbuh menjadi ubur-ubur dewasa.